Merokok Sebabkan Stunting, Anak Mudah Sakit dan Daya Tahan Tubuh Menurun

Merokok Sebabkan Stunting, Anak Mudah Sakit dan Daya Tahan Tubuh Menurun

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Dampak merokok tidak hanya dirasakan oleh perokok aktif, tetapi juga oleh anak-anak yang menjadi perokok pasif. Paparan asap rokok terbukti dapat menyebabkan stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis. Anak yang mengalami stunting cenderung mudah lelah, sering sakit, dan memiliki daya tahan tubuh yang rendah, sehingga nutrisi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh malah lebih banyak dialihkan untuk proses penyembuhan.

Direktur RSUD AM Parikesit, dr Martina Yulianti, menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya merokok terhadap tumbuh kembang anak. “Kami aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan stunting, termasuk dampak buruk asap rokok terhadap anak-anak,” jelasnya.

Menurut dr Martina, rumah sakit telah menyiapkan tim khusus untuk menangani kasus stunting dan mendukung penuh program penurunan angka stunting di Kutai Kartanegara. “Kami harapkan Bupati dapat memberikan dorongan bagi seluruh pihak terkait untuk bekerja lebih keras dalam upaya menurunkan angka stunting,” tambahnya.

Penelitian dari Pusat Kajian Jaminan Sosial UI menunjukkan bahwa anak dari keluarga perokok memiliki tinggi badan lebih pendek dan IQ lebih rendah dibanding anak dari keluarga non-perokok. Selain itu, paparan asap rokok selama kehamilan dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), yang menjadi salah satu faktor pemicu stunting.

Kementerian Kesehatan juga menyatakan bahwa 5,5% balita yang tinggal dengan perokok aktif memiliki risiko stunting lebih tinggi. Balita dari keluarga perokok diketahui memiliki berat badan 1,5 kg lebih rendah dibanding balita dari keluarga non-perokok.

Asap rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk nikotin dan karbon monoksida, yang dapat mengganggu metabolisme dan sistem imun anak. Akibatnya, anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit seperti batuk, pilek, dan pneumonia, yang memperburuk kondisi gizi dan memperlambat pertumbuhan.

Dengan meningkatnya kesadaran akan bahaya merokok terhadap anak, RSUD AM Parikesit juga telah menetapkan kawasan rumah sakit sebagai zona bebas asap rokok, sesuai dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.(adv/diskominfokukar/stg/kn1/rhi)