Lempok Pisang Dina Jaya Khas Desa Teluk Muda

Perlu Strategi, Untuk Tetap Bertahan di Tengah Pandemi

Lempok Pisang Dina Jaya Khas Desa Teluk Muda

kukarnews.id, KENOHAN - Perlu strategi khusus agar para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bisa tetap bertahan meski ditengah pandemi Covid-19. Tidak berpangku tangan, terus berinovasi dan bekerja keras menjadi kunci bertahannya UMKM disituasi yang sulit ini. Seperti yang dilakukan oleh Slamet, warga RT 5, Desa Teluk Muda, Kecamatan Kenohan Kabupaten Kutai Kartanegara.


Slamet memproduksi jajanan dalam kemasan hasil olahan pisang yakni Lempok Pisang Dina Jaya. Usaha yang dibangun sejak tahun 2006 yang lalu hingga saat ini masih eksis di pasaran, meski diterpa pandemi Covid-19. "Kualitas harus dijaga," ucap Slamet, Kamis (12/8/2021). Hal inilah yang membuat produksinya tetap laris dipasaran dan tetap dibeli konsumen.


Dirinya menuturkan dalam seminggu dirinya bisa memproduksi sebanyak 2 kali pengolahan. Dengan kapasitas pemanggangan sebesar 120 sisir, yang bisa menghasilkan sebanyak 30 hingga 35 Kilogram lempok pisang. "Jika kualitas pisang baik bisa mencapai 35 Kilogram, kalau ukuran pisang kecil - kecil 30 Kilogram," jelasnya.


Untuk bahan baku pisang dirinya menggunakan pisang gregok, ia mendapatkan dari hasil kebun petani yang berasal dari Desa Tuana Tuha, Desa Padamaran dan kebun sekitar di Desa Teluk Muda agar ekonomi sekitar juga ikut tumbuh. Petani biasanya mengantar langsung  ke rumahnya dengan harga persisir sebesar Rp. 4 ribu. "Kalau terlalu kecil tetap kita hitung tapi menyesuaikan," ungkapnya. Dari tiga desa tersebut kualitas terbaik berasal dari Desa Teluk Muda, jika sudah cukup tuanya maka menghasilkan minyak seperti gula. "Memang yang paling baik teksturnya," sambungnya.


Untuk sekali produksi memakan waktu hingga 12 hari, dari mulai menunggu cukup masak bahan pisang dengan kualitas yang baik, pengupasan, penjemuran yang juga tergantung dari cuaca panas, diangkat selanjutnya didinginkan selama 24 jam hingga dilakukan pengemasan.


Slamet menjual lempok pisang dengan menggunakan kemasan isi 500 gram dan 900 gram. Untuk harga jual yang 500 gram dengan harga Rp 20 ribu dan yang 900 gram Rp 35 ribu. "Untuk reseller mendapatkan harga beda," terangnya.


Sebelum pandemi biasanya reseller lewat atau mengambil di rumahnya. Namun saat ini dan adanya juga kebijakan PPKM para reseller tidak tetap sudah jarang melintas didepan rumahnya, sehingga Slamet lebih memaksimalkan penjualan di reseller tetapnya yang berada di sejumlah tempat. "Reseller ada empat di Kota Bangun, satu Samarinda dan satu di Tenggarong," jelasnya. 


Untuk di Kecamatan Kota Bangun dinilainya cepat berputar. Dirinya menyebut ada 3 reseller disana yang penjualannya luar biasa. Sehingga dirinya langsung yang mengantar ke tempat reseller tersebut dengan sekali antar minimal 15 Kilogram, atau jika dihitung dalam kemasan ukuran 500 Gram, ada 30 bungkus. "Seminggu sekali ke Kota Bangun, kadang 2 hari sekali, di Kota Bangun ada 3 yang kuat laris penjualan," sambungnya.


Meski pengiriman ini dilakukan langsung ke tempat reseller, dirinya tidak menambah harga pengiriman kepada penjual tersebut. Usai pengiriman dirinya juga sekalian membeli sejumlah barang sembako untuk dijual di warung yang ada di rumahnya. "Harus disiasati agar penjualan tidak berpengaruh," ungkapnya.


Jajanan ini dinilai sudah mulai langka dipasaran, untuk itulah dirinya tetap melestarikan jajanan ini agar bisa tetap dinikmati masyarakat luas.


Sementara itu Kepala Desa Teluk Muda, Aladin menyebutkan bahwa warganya tersebut dinilai ulet dalam bekerja. Sebagai produk yang mengangkat nama desa Teluk Muda, pihak desa juga membantu memperkenalkan produk olahan Lempok Pisang ini ke daerah lain. "Kita bantu juga memasarkan lewat postingan media sosial dan spanduk di beberapa kegiatan," ucapnya.


Aladin juga mengajak untuk membeli dan mencoba produk olahan Pisang Lempok Dina Jaya, sebab harga terjangkau dan rasanya khas dari Desa Teluk Muda. "Cocok untuk hadiah atau oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat," pungkasnya. (adv/dkom/kn1)