Jangkau 17 Sekolah, Puskesmas Mangkurawang Cegah Anemia Pada Remaja Putri

Jangkau 17 Sekolah, Puskesmas Mangkurawang Cegah Anemia Pada Remaja Putri

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Pencegahan anemia pada remaja putri menjadi salah satu langkah Puskesmas Mangkurawang dalam mencegah stunting dan menekan risiko masalah gizi sejak usia sekolah. Program pemberian tablet tambah darah (TTD) menjangkau 17 sekolah tingkat SMP dan SMA, termasuk pondok pesantren di wilayah kerjanya.

 

Ahli Gizi Puskesmas Mangkurawang, Dhila, mengatakan distribusi TTD dilakukan melalui sekolah dengan melibatkan guru atau pengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Puskesmas menyalurkan persediaan tablet secara berkala, kemudian pihak sekolah membantu pelaksanaan pemberian kepada siswi.

 

“Untuk remaja putri, kami menjangkau 17 sekolah, mulai dari SMP, SMA, sampai pondok pesantren. Distribusi TTD dilakukan melalui sekolah dengan melibatkan pihak UKS atau guru,” ujarnya.

 

Dhila menyebut, persediaan tablet disalurkan Puskesmas setiap tiga bulan ke setiap Sekolah. Selanjutnya, pemberian kepada remaja putri yang tidak mengalami anemia dilakukan secara rutin satu kali dalam sepekan.

 

Sementara itu, Kata Dhila, untuk remaja putri yang telah terdeteksi mengalami anemia membutuhkan penanganan berbeda dari pemberian rutin mingguan. Pemberian tablet dapat dilakukan setiap hari sesuai kondisi dan arahan tenaga kesehatan hingga kondisi hemoglobinnya kembali normal.

 

“Kalau sudah mengalami anemia, penanganannya berbeda. Pemberian tablet bisa dilakukan setiap hari sampai kondisinya kembali normal, sesuai hasil pemeriksaan dan arahan petugas kesehatan,” terangnya.

 

Dhila menjelaskan, pemberian TTD secara berkala bertujuan membantu memenuhi kebutuhan zat besi dan mencegah anemia. Upaya itu sebagai persiapan kesehatan remaja putri sebelum memasuki masa kehamilan pada usia dewasa, yang kemudian untuk menghindari resiko stunting pada anak yang dikandung nantinya.

 

“Pencegahan anemia perlu dimulai sejak remaja. Karena itu, pemberian tablet tambah darah tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami masalah kesehatan,” jelasnya. 

 

Dhila menilai keterlibatan sekolah menjadi faktor penting agar program itu dapat berjalan secara teratur. Tanpa dukungan guru dan pengelola UKS, distribusi tablet belum tentu diikuti dengan kepatuhan konsumsi oleh para siswi.

 

“Sekolah memiliki peran untuk membantu memastikan tablet yang sudah disalurkan benar-benar diberikan kepada siswi. Karena itu, koordinasi dengan guru dan UKS terus diperlukan,” papar Dhila.

 

Selain distribusi, Dhila berujar, edukasi mengenai anemia juga perlu diberikan agar remaja putri memahami manfaat konsumsi TTD. Pengetahuan tersebut diharapkan mendorong mereka mengikuti program secara rutin, bukan hanya mengonsumsi tablet ketika merasa lemas atau mengalami keluhan.

 

“Remaja putri perlu memahami mengapa tablet tambah darah harus dikonsumsi secara teratur. Pencegahan akan lebih baik dilakukan sebelum anemia terjadi,” tuturnya.

 

Dhila berharap program konsumsi TTD inj dapat membangun kesadaran menjaga kesehatan sejak usia sekolah. Menurutnya, pencegahan stunting memang perlu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki masa kehamilan.

 

“Persiapan kesehatan untuk kehamilan tidak dimulai ketika sudah hamil saja. Kondisi kesehatan sejak remaja juga perlu diperhatikan,” pungkasnya. (adv/diskominfokukar/stg/zal/kn1/rhi)