Sarana Posyandu Kukar Diperkuat, Dukungan CSR Ikut Menopang

Sarana Posyandu Kukar Diperkuat, Dukungan CSR Ikut Menopang

kukarnews.id, KUTAI KARTANEGARA – Penguatan penanganan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) turut menyentuh aspek sarana pelayanan di tingkat masyarakat. Pemerintah daerah memastikan kebutuhan peralatan untuk pemantauan pertumbuhan balita tersedia di Posyandu, dengan dukungan pembiayaan dari berbagai sumber.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kukar, Ismi Mufiddah mengatakan seluruh Posyandu telah memiliki alat antropometri yang digunakan untuk melakukan pengukuran balita. Namun, dalam pemanfaatannya masih terdapat peralatan yang mengalami kerusakan sehingga perlu mendapatkan perhatian.

“Alatnya ada ya. Semuanya ada, cuma mungkin memang ada yang mengalami kerusakan-kerusakan,” kata Ismi.

Penyediaan alat tersebut sebelumnya dilakukan melalui dukungan anggaran pemerintah, baik dari APBD maupun APBN. Ketersediaan peralatan menjadi bagian dari kebutuhan dasar pelayanan Posyandu karena pengukuran pertumbuhan balita dalam upaya intervensi stunting dilakukan secara rutin di fasilitas tersebut.

Selain dukungan anggaran pemerintah, pemenuhan sarana juga mendapat dukungan dari pihak lain. Ismi menyebut keterlibatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR turut membantu penguatan kebutuhan pelayanan di lapangan.

“CSR juga membantu, BPJS juga sama,” ujarnya.

Dukungan dari berbagai pihak tersebut memberikan tambahan ruang bagi pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan sarana pelayanan. Hal ini menjadi penting karena Posyandu tersebar di berbagai wilayah dan membutuhkan peralatan yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

Bagi Dinas Kesehatan, keberadaan alat saja belum cukup. Peralatan yang digunakan untuk mengukur berat dan tinggi badan balita harus berada dalam kondisi yang layak sehingga hasil pengukuran dapat memberikan gambaran yang tepat mengenai pertumbuhan anak.

Karena itu, kondisi peralatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kualitas pelayanan Posyandu. Ketika terdapat alat yang mengalami kerusakan, kebutuhan perbaikan atau penggantian perlu diperhatikan agar kegiatan pengukuran tidak terganggu.

"Penguatan sarana juga berkaitan dengan kebutuhan deteksi dini, Hasil pengukuran adalah dasar apakah terdapat persoalan pertumbuhan dari balita," terang Ismi. 

Ismi berujar, Dinkes Kukar sebelumnya juga memperkuat sistem pemantauan melalui penginputan hasil pengukuran ke dalam sistem informasi gizi. Dengan demikian, sarana pengukuran di lapangan dan sistem pencatatan dapat saling mendukung dalam menghasilkan data pertumbuhan balita.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan penanganan stunting dilakukan dari berbagai sisi, mulai dari ketersediaan peralatan, dukungan pembiayaan hingga pemanfaatan data hasil pelayanan.

“Jadi alat ukur ini merupakan alat ukur standar yang memang harus ada dan dibagikan ke Posyandu-Posyandu,” pungkas Ismi. (adv/diskominfokukar/stg/zal/rhi)